Latest Movie :

Pentingnya sebuah Harapan dan Impian (sudah di modifikasi oleh gemini.ai)



Jejak Langkah di Lapangan Banteng

Sore baru saja runtuh di kawasan Lapangan Banteng. Dari balik jendela gedung Kementerian Agama Pusat tempat saya kini berkantor, lalu lintas Jakarta tampak beringsut pelan. Di atas meja kerja, sebuah layar komputer yang menyala seolah memanggil-manggil.

Sudah cukup lama jemari ini menari di atas kibor maupun menggoreskan tinta di lembar buku catatan. Ada rasa bersalah yang menyelusup—meninggalkan kebiasaan menulis rasanya seperti membiarkan satu sudut jiwa mengering. Menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan cara merawat ingatan, menata rasa, dan melatih soft skill yang teramat berharga.

Hari ini, saya membulatkan tekad: saya harus kembali menulis.

Melalui catatan ini, saya hanya ingin menyapa diri sendiri dan siapa pun di luar sana yang tengah berjuang: jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah harapan dan impian. Bagi kalian yang mungkin hari ini masih menatap impian itu dari kejauhan, teruslah melangkah, berdoa, dan berikhtiar. Semoga apa yang kalian langitkan segera berbuah nyata. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Berdiri di koridor gedung Kemenag Pusat ini kerap membuat saya tertegun. Sebagai seorang ASN PPPK di kementerian ini, rasa syukur rasanya tak pernah cukup untuk melukiskan apa yang saya rasakan. Ini adalah sebuah anugerah yang teramat besar.

Bagi kawan-kawan yang mengikuti jejak langkah saya di blog ini, mungkin sudah tidak asing dengan perjalanan yang pernah saya lewati. Namun bagi yang baru bertandang, cerita ini bermula dari lorong-lorong sederhana di MTsN 6 Jakarta. Saya mengawali karier di sana dari posisi paling bawah: seorang Office Boy (OB).

Dengan seragam sederhana dan alat kebersihan di tangan, saya menyapu setiap sudut sekolah. Namun, Allah adalah sebaik-backnya penentu alur cerita. Dari seorang OB, pintu-pintu kepercayaan perlahan terbuka. Saya dipercaya naik menjadi staf Tata Usaha (TU). Seiring waktu, tanggung jawab itu terus bertambah: menjadi staf kesiswaan, mengurus kepegawaian, memegang persuratan, hingga akhirnya dipercaya mengelola situs web dan saluran YouTube resmi MTsN 6 Jakarta.

Namun, tahukah kalian bahwa benih dari semua perjalanan panjang ini sejatinya telah tertanam belasan tahun lalu?

Kira-kira belasan tahun silam, saat saya masih duduk di kelas 2 MTs (setara kelas 8), sebuah obrolan ringan terjadi di sudut sekolah. Bersama seorang sahabat dekat, kami duduk bersandarkan tembok seraya memandang halaman.

Tanpa beban dan tanpa tahu bagaimana cara menggapainya, sebuah kalimat mendadak meluncur begitu saja dari mulut saya:

"Nanti kalau lulus SMA atau MA, gue mau kuliah sambil kerja."

Sahabat saya tersenyum, lalu obrolan itu berlalu ditiup angin sore. Seiring berjalannya waktu, ucapan itu terkubur oleh masa lalu. Saya lupa, dunia pun terus berputar.

Tujuh tahun berlalu. Takdir membawa kami kembali bersua.

Dalam perjumpaan kembali dengan sahabat masa MTs itu, sebuah momen ajaib terjadi. Tanpa diduga, ia mendadak memutar kembali memori masa lalu. Ia mengingatkan kembali kalimat yang pernah saya ucapkan tujuh tahun silam—sebuah ucapan yang bahkan sudah lama menguap dari ingatan saya sendiri.

Saat sahabat saya melakukan call back atas kenangan itu, saya tengah berjuang sebagai cleaning service di lantai-lantai megah Bursa Efek Jakarta. Kata-kata sahabat saya hari itu seolah menjadi lecutan takdir yang membakar semangat. Singkat cerita, takdir membuka jalannya sendiri: impian masa sekolah itu benar-benar terwujud. Saya resmi menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sembari mencari nafkah.

Perjuangan itu terus berlanjut. Pada tahun 2007, saya mulai mengabdi di MTsN 6 Jakarta sebagai CS/OB. Dengan ketekunan dan izin-Nya, saya berhasil menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana pada tahun 2008.

Lalu, keajaiban berikutnya menyapa di tahun 2009. Sebuah tawaran yang tak pernah saya duga datang: saya diangkat menjadi staf Tata Usaha. Sebuah lompatan karier yang terasa begitu cepat jika dibandingkan dengan rekan-rekan perjuangan lainnya.

Malam ini, di depan layar komputer, saya menundukkan kepala seraya menuliskan kisah ini. Ini adalah cara saya mengingatkan diri betapa dahsyatnya kekuasaan Allah SWT. Dia adalah Tuhan Yang Maha Mendengar, yang tak pernah tidur menjaga dan mencatat setiap bisikan harapan hamba-Nya.

Air mata syukur ini jatuh untuk-Mu, Ya Allah.

Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada:

  • Malaikat-malaikat pencatat yang setia merekam setiap doa dan niat baik.

  • Sahabat masa kecil saya, yang telah menjadi perantara untuk membangunkan kembali ingatan akan mimpi lama itu.

  • Orang tua tercinta, yang tak pernah lelah melantunkan doa, mendorong, dan membakar semangat saya untuk terus belajar.

  • Semua pihak dan kawan yang pernah hadir dan mengulurkan tangan dalam tiap jengkal alur cerita hidup saya.

Kini, di balik meja kerja Kemenag Pusat ini, saya kembali menanam harapan dan mimpi yang baru. Saya berdoa semoga apa yang saya kerjakan hari ini mendatangkan keberkahan, serta membentuk diri saya menjadi pribadi yang terus bertumbuh—lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi.

Satu pelajaran berharga yang terpahat kuat di dalam dada: sebuah harapan dan mimpi harus selalu digerakkan oleh usaha. Tanpa adanya ikhtiar yang sungguh-sungguh, mimpi hanyalah bayang-bayang semu yang tak akan pernah bisa dipeluk.

Di penghujung tulisan ini, dari kedalaman hati yang paling dalam, saya bersyukur atas segala anugerah yang Allah limpahkan untuk saya dan keluarga. Terima kasih atas kesempatan mengabdi sebagai ASN PPPK di Kemenag, dan terima kasih atas hadirnya rekan-rekan kerja yang begitu hangat dan friendly.

Semoga keberkahan, rahmat, dan kedamaian selalu menyertai langkah kita semua.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ahmad shoghir - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger